Sabtu, 09 Mei 2015

Kapitalisme sudah sampai RANJANG !!

FENOMENA “TISU MAGIC”KAPITALISME DALAM HUBUNGAN SEKSUALBerbicara masalah gender tidak melulu perihal emansipasi wanita. juga tidak melulu perihal kekerasan yang dilakukan pria terhadap wanita. Saya mencoba menarik benang merah antara gender dan Kapitalisme. Di tengah malam nan gelap gulita ditemani segelas kopi kali ini, entah wangsit darimana datang dengan sendirinya.Saya terpikir untuk menulis perihal “Tisu Magic”. Ya. Sekilas terlihat ngawur dan mungkin akan mendapat kecaman. Tak masalah, bagiku urusan ranjang adalah permasalahan gender yang unik dan mungkin belum banyak dibahas. Mungkin kini, ini hanyalah tulisan iseng. Namun menurut saya, bisa dikembangkan dengan penelitian lebih lanjut.Marilah bertanya, apa sih “Tisu Magic”? Mengapa saya tertarik untuk membahasnya?Menuruttisupowermagic.com, TISSUE POWER MAGIC atau biasa disebut “Tisu Magic” adalah obat kuat pria untuk tahan lama berulang-ulang yang berbentuk tisu basah, sangat cocok untuk kaum pria yang mengalami enjakulasi dini secara premature, sangat aman digunakan karena tisu ini mengandung anti septik dan tidak perlu takut alergi jika memakainya.“Tisu Magic” menjadi fenomena baru dalam urusan ranjang. Jika membicarakan perihal obat kuat bagi pria,biasanya kita akan terpikir perihal Viagra, minyak arab, dan sebagainya. Baik obat kuat yang digunakan dengan cara diminum atau dioleskan pada alat vital pria.Namun “Tisu Magic” berbeda. Adanya “Tisu Magic” menjadi pertanda bahwa majunya teknologi di dunia ini telah mengakar, hingga urusan ranjang. Efesiensi yang ada dalam “Tisu Magic” begitu tinggi karena begitu mudah didapat dan digunakan. Kini telah dipasarkan secara bebas di berbagai supermarket.Biasanya “Tisu Magic” dipajang di dekat kasir, berdampingan dengan perkakas seks lainnya seperti kondom dan test pack (alat penanda kehamilan). Dengan harga yang sangat terjangkau, kepuasan seks selama lebih dari satu jam non-stop dapat tercapai, katanya.Sumpah demi Tuhan yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, saya belum pernah membeli apalagi menggunakannya.Apa hubungannya “Tisu Magic” dengan gender?Menurut saya, “Tisu Magic” dibuat untuk mengangkat harga diri pria di ranjang, katanya. Hal tersebut karenastigma yang beredar dan telah menjadi rahasia umum bahwa kepuasan di ranjang itu karena lama durasi hubungan seksual.Saya menolak stigma dan rahasia umum tersebut. Menurut saya, kepuasan di ranjang itu perihal bagaimana pria memperlakukan istrinya dengan kasih sayang. Bagi saya, cinta tidak melulu urusan ranjang.Harga diri pria tidak ditentukan oleh lama durasi berhubungan seksual. Istri yang baik adalah istri yang menerima seratus persen kondisi suaminya berdasarkan janji setia yang disepakati pada saat Ijab Kabul pernikahan.“Tisu Magic” jelas adalah produk Kapitalisme. Produsen “Tisu Magic” mengiming-imingi kepuasan di ranjang karena bertahan lama dalam hubungan seksual, agar banyak pria mengkonsumsinya.Pada akhirnya, pria diarahkan agar tidak bisa lepas dari “Tisu Magic”. Agar pria merasa ada yang kurang jika belum menggunakan “Tisu Magic” saat berhubungan seksual.Bagi saya, hal tersebut menurunkan martabat seorang pria. Permasalahan gender, kan?Mungkin terlihat sepele, namun coba anda pikirkan kembali. Betapa Kapitalisme begitu mencengkeram dalam kehidupan manusia, bahkan hingga urusan ranjang.

Label:

Kapitalisme sudah sampai RANJANG !!

FENOMENA “TISU MAGIC”KAPITALISME DALAM HUBUNGAN SEKSUALBerbicara masalah gender tidak melulu perihal emansipasi wanita. juga tidak melulu perihal kekerasan yang dilakukan pria terhadap wanita. Saya mencoba menarik benang merah antara gender dan Kapitalisme. Di tengah malam nan gelap gulita ditemani segelas kopi kali ini, entah wangsit darimana datang dengan sendirinya.Saya terpikir untuk menulis perihal “Tisu Magic”. Ya. Sekilas terlihat ngawur dan mungkin akan mendapat kecaman. Tak masalah, bagiku urusan ranjang adalah permasalahan gender yang unik dan mungkin belum banyak dibahas. Mungkin kini, ini hanyalah tulisan iseng. Namun menurut saya, bisa dikembangkan dengan penelitian lebih lanjut.Marilah bertanya, apa sih “Tisu Magic”? Mengapa saya tertarik untuk membahasnya?Menuruttisupowermagic.com, TISSUE POWER MAGIC atau biasa disebut “Tisu Magic” adalah obat kuat pria untuk tahan lama berulang-ulang yang berbentuk tisu basah, sangat cocok untuk kaum pria yang mengalami enjakulasi dini secara premature, sangat aman digunakan karena tisu ini mengandung anti septik dan tidak perlu takut alergi jika memakainya.“Tisu Magic” menjadi fenomena baru dalam urusan ranjang. Jika membicarakan perihal obat kuat bagi pria,biasanya kita akan terpikir perihal Viagra, minyak arab, dan sebagainya. Baik obat kuat yang digunakan dengan cara diminum atau dioleskan pada alat vital pria.Namun “Tisu Magic” berbeda. Adanya “Tisu Magic” menjadi pertanda bahwa majunya teknologi di dunia ini telah mengakar, hingga urusan ranjang. Efesiensi yang ada dalam “Tisu Magic” begitu tinggi karena begitu mudah didapat dan digunakan. Kini telah dipasarkan secara bebas di berbagai supermarket.Biasanya “Tisu Magic” dipajang di dekat kasir, berdampingan dengan perkakas seks lainnya seperti kondom dan test pack (alat penanda kehamilan). Dengan harga yang sangat terjangkau, kepuasan seks selama lebih dari satu jam non-stop dapat tercapai, katanya.Sumpah demi Tuhan yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, saya belum pernah membeli apalagi menggunakannya.Apa hubungannya “Tisu Magic” dengan gender?Menurut saya, “Tisu Magic” dibuat untuk mengangkat harga diri pria di ranjang, katanya. Hal tersebut karenastigma yang beredar dan telah menjadi rahasia umum bahwa kepuasan di ranjang itu karena lama durasi hubungan seksual.Saya menolak stigma dan rahasia umum tersebut. Menurut saya, kepuasan di ranjang itu perihal bagaimana pria memperlakukan istrinya dengan kasih sayang. Bagi saya, cinta tidak melulu urusan ranjang.Harga diri pria tidak ditentukan oleh lama durasi berhubungan seksual. Istri yang baik adalah istri yang menerima seratus persen kondisi suaminya berdasarkan janji setia yang disepakati pada saat Ijab Kabul pernikahan.“Tisu Magic” jelas adalah produk Kapitalisme. Produsen “Tisu Magic” mengiming-imingi kepuasan di ranjang karena bertahan lama dalam hubungan seksual, agar banyak pria mengkonsumsinya.Pada akhirnya, pria diarahkan agar tidak bisa lepas dari “Tisu Magic”. Agar pria merasa ada yang kurang jika belum menggunakan “Tisu Magic” saat berhubungan seksual.Bagi saya, hal tersebut menurunkan martabat seorang pria. Permasalahan gender, kan?Mungkin terlihat sepele, namun coba anda pikirkan kembali. Betapa Kapitalisme begitu mencengkeram dalam kehidupan manusia, bahkan hingga urusan ranjang.

Label:

Jumat, 08 Mei 2015

Koin untuk adinda

Jember, MemoWarga miskin perkotaan masih ada. Karena keterbatasan ekonomi ada keluarga yang tak bisa mendapat fasilitas kesehatan dari Pemerintah,BPJS dan lain lain.Di rumah yang terletak di Jalan Hayam Wuruk, Kelurahan Kaliwates, inilah Adinda Dwi Nuraini (6) tinggal bersama orang tuanya. Sejak lahir, putri kedua pasangan dari Widayati dan Tri Joko, ini mengalami kelumpuhan. “Sampai sekarang, dia (Adinda,red) belum bisa jalan,” ungkap Widayati, ibu korban.Bocah kelahiran 13 Desember 2009 yang akrab disapa Dinda, ini hanya bisa terbaringditempat tidur dan tidak bisa bermain seperti anak seusianya. Menurut Widayati, oleh dokter yang pernah merawatnya, Dindadivonis terserang virus pada otaknya.“Jelas saat mendengar itu, saya syok,” ungkapnya.Tim medis di RSD dr Soebandi Jember yang merawat Dinda setelah lahir, tidak sanggup melakukan perawatan lebih lanjut karena keterbatasan alat medis. Pihak Rumah Sakit (RS) keluarga untuk membawa Dinda ke RS Soetomo Surabaya, agar mendapat perawatan lebih lanjut.“Sebenarnya pengen bawa anak saya ini ke RS Soetomo Surabaya, tapi biayanya gak ada,” ujarnya.Karena keterbatasan ekonomi itulah, membuat keluarga Dinda tak mampu berbuatbanyak. Pihak keluarga hanya beberapa kali membawa Dinda ke sebuah klinik anak untuk melakukan fisioterapi dan tempat pengobatan alternatif.Itu dilakukan agar putri kesayangannya itu bisa sembuh dan hidup normal dan bisa menikmati keceriaan masa kanak-kanaknya.Setiap hari, Dinda hanya bisa mengkonsumsiBubur dan Susu. Kelainan pada pencernaannya, membuat Dinda tidak bisa mengkonsumsi makanan lainnya seperti nasi dan sayuran.Orang tua Dinda yang berprofesi sebagai pembantu rumah tangga dan buruh toko, hanya bisa pasrah dan berupaya semampunya demi kesembuhan putri keduanya tersebut.“Kalau ke rumah sakit belum mas,soalnya pas lahir dirumah sakit saya tanya dokternya. ‘dok gimana ini nanti kedepannya’ dokternya juga gak bisa ngomong apa-apa,” kenang Widayati. Keduaorang tua Dinda berharap adanya perhatiankhusus dari pemerintah setempat ataupun uluran tangan dari dermawan yang mau membantu pengobatan dan perawatan putrikesayangannya.(sp)

Label: